Selasa, 18 November 2025

Berburu Inspirasi Pastry di Bugis Junction Mall Singapore

 PENGALAMAN VISUAL DARI LAVENDER BAKERY dan PARIS BAGUETTE


          Begitu masuk ke dalam  Bugis Junction Mall, ada  aroma yang mengusik: wangi roti yang baru keluar dari oven. Aroma ini seolah sengaja dibiarkan menari di udara, menggoda siapa saja yang lewat.

            Aroma yang menggoda itu datang dari banyak kedai kopi & bakery. Di antaranya Kopitiam Food Hall, Kong Wan Roast, Irvins yang terkenal dengan produk Salted Egg  Fish Skin dan masih banyak tempat lainnya. Saya mampir di dua kedai bakery yang cukup populer; Lavender Bakery dan Paris Baguette.



            Kesan  pertama saat melangkah ke Lavender Bakery adalah suasananya yang elegan, hangat dan penuh detail. Etalase kaca mereka tertata rapi, menghadirkan roti dan pastry seperti karya seni kecil. Croissant mengilap keemasan, roti lembut berlapis krim, dan aneka cake mungil yang seolah berkata, “ambil aku satu saja…”


            Yang menarik bagi saya—selain rasanya, tentu saja—adalah bagaimana mereka mengemas pengalaman membeli roti. Setiap produk diletakkan dengan sangat terukur: tidak menumpuk, tidak berlebihan, tapi cukup untuk menciptakan kesan premium.


            Ini bisa jadi inspirasi berharga untuk mahasiswa pastry di kampus  Tristar Culinary Institute Group yang saya kelola di Indonesia.  Sebuah pelajaran bahwa bakery bukan sekadar urusan rasa, tapi juga presentasi dan pengalaman pelanggan.

            Berbeda dengan Lavender, Paris Baguette menawarkan nuansa modern dengan sentuhan kafe kasual. Interiornya terang, dengan barisan pastry dan sandwich cantik yang terasa “instagramable.” Ada pilihan roti klasik, tapi juga dessert kekinian yang cocok untuk generasi muda pencinta kopi dan roti manis.


            Yang saya perhatikan adalah kecepatan layanan dan sistem self-service yang rapi. Pengunjung bisa memilih roti langsung, menaruhnya di nampan, lalu membayar di kasir dengan efisien. Bagi saya, ini juga menarik untuk dipelajari lebih lanjut—bagaimana bakery modern bisa memadukan kecepatan layanan tanpa kehilangan sentuhan personal pada produknya.


            Kunjungan singkat ini bukan sekadar wisata kuliner. Sebagai pengelola lembaga  pendidikan kuliner dan pastry, saya menangkap  ide-ide segar untuk dikembangkan di kampus Tristar yang tersebar di kota besar (Surabaya, Denpasar Bali, Kota Wisata Batu, Semarang, Bogor, BSD Tangerang Selatan dan Pontianak Kalbar). Mulai dari  cara display produk, pengemasan pengalaman pelanggan, hingga konsep layanan bakery modern.


            Mahasiswa pastry perlu belajar bahwa industri bakery bukan hanya soal membuat roti yang enak, tapi juga menciptakan brand experience yang kuat. Dua kedai ini membuktikan: pengalaman visual dan atmosfer toko bisa menjadi daya tarik utama selain rasa.


            Saya meninggalkan Bugis Junction dengan beberapa produk pastry di tangan dan banyak ide di kepala. Kadang inspirasi untuk mengembangkan dunia pendidikan kuliner tidak datang dari ruang kelas atau seminar—tapi dari sebuah gigitan roti lembut di sudut sebuah mall di Singapure. (Juwono Saroso)