PENGALAMAN VISUAL DARI LAVENDER BAKERY dan
PARIS BAGUETTE
Begitu
masuk ke dalam Bugis Junction Mall, ada
aroma yang mengusik: wangi roti yang baru keluar dari oven. Aroma ini
seolah sengaja dibiarkan menari di udara, menggoda siapa saja yang lewat.
Aroma yang menggoda itu datang
dari banyak kedai kopi & bakery. Di antaranya Kopitiam Food Hall, Kong Wan
Roast, Irvins yang terkenal
dengan produk Salted Egg Fish Skin dan
masih banyak tempat lainnya. Saya mampir di dua kedai bakery yang cukup
populer; Lavender Bakery dan Paris Baguette.
Kesan pertama saat melangkah ke Lavender Bakery adalah suasananya yang
elegan, hangat dan penuh detail. Etalase
kaca mereka tertata rapi, menghadirkan roti dan pastry seperti karya seni
kecil. Croissant mengilap keemasan, roti lembut berlapis krim, dan aneka cake
mungil yang seolah berkata, “ambil aku satu saja…”
Yang menarik bagi saya—selain rasanya, tentu saja—adalah
bagaimana mereka mengemas pengalaman membeli roti. Setiap produk diletakkan
dengan sangat terukur: tidak menumpuk, tidak berlebihan, tapi cukup untuk
menciptakan kesan premium.
Ini
bisa jadi inspirasi berharga untuk mahasiswa pastry di kampus Tristar
Culinary Institute Group yang saya kelola di Indonesia. Sebuah pelajaran bahwa bakery bukan sekadar
urusan rasa, tapi juga presentasi dan pengalaman pelanggan.
Berbeda
dengan Lavender, Paris Baguette
menawarkan nuansa modern dengan sentuhan kafe kasual. Interiornya terang,
dengan barisan pastry dan sandwich cantik yang terasa “instagramable.” Ada
pilihan roti klasik, tapi juga dessert kekinian yang cocok untuk generasi muda
pencinta kopi dan roti manis.
Yang
saya perhatikan adalah kecepatan layanan dan sistem self-service yang rapi.
Pengunjung bisa memilih roti langsung, menaruhnya di nampan, lalu membayar di
kasir dengan efisien. Bagi saya, ini juga menarik untuk dipelajari lebih
lanjut—bagaimana bakery modern bisa memadukan kecepatan layanan tanpa
kehilangan sentuhan personal pada produknya.
Kunjungan
singkat ini bukan sekadar wisata kuliner. Sebagai pengelola lembaga pendidikan kuliner dan pastry, saya
menangkap ide-ide segar untuk
dikembangkan di kampus Tristar yang tersebar di kota besar (Surabaya, Denpasar
Bali, Kota Wisata Batu, Semarang, Bogor, BSD Tangerang Selatan dan Pontianak
Kalbar). Mulai dari cara display produk,
pengemasan pengalaman pelanggan, hingga konsep layanan bakery modern.
Mahasiswa
pastry perlu belajar bahwa industri bakery bukan hanya soal membuat roti yang
enak, tapi juga menciptakan brand experience yang kuat. Dua kedai ini
membuktikan: pengalaman visual dan atmosfer toko bisa menjadi daya tarik utama
selain rasa.
Saya meninggalkan Bugis Junction dengan beberapa produk pastry di tangan dan banyak ide di kepala. Kadang inspirasi untuk mengembangkan dunia pendidikan kuliner tidak datang dari ruang kelas atau seminar—tapi dari sebuah gigitan roti lembut di sudut sebuah mall di Singapure. (Juwono Saroso)











