Chef Ira:


Chef Ira 

Dari Dedikasi Melahirkan Prestasi 

DEDIKASI dan PRESTASI. Dua hal itu melekat pada diri Chef Ira, dosen Pastry Tristar Culinary BSD. Dedikasi dosen senior ini berhasil mengantar mahasiswa mengukir prestasi dalam berbagai lomba. Yuk kita ikuti penuturan Chef Ira di bawah ini:

Saya merasa sangat bersyukur kepada Tuhan YME atas tuntunan-Nya kepada saya didalam membimbing semua mahasiswa yang ikut di dalam lomba selama ini. Hampir semua mahasiswa yang saya bimbing berhasil mendapatkan medali, hanya ada satu mahasiswa yang tidak berhasil pada lomba tahun 2017.

Lomba tahun 2018 ini, saya bersyukur bahwa semua mahasiswa yang saya kirim untuk lomba hampir semua bisa mendapatkan medali. Ada beberapa yang mendapatkan Diploma. Seperti Satria M. Ramadhani didalam lomba Chocolatier Chocotober Fest 2018 yang baru lalu mendapatkan certificate BEST SPIRIT PERSONALITY. Juga Shifa Shabila dan Keysha Zalika Zahra meskipun tidak mendapatkan medali, mereka mendapatkan Diploma (dibawah Bronze) yang tidak semua peserta bisa mendapatkannya.

Dan tidak disangka ada dua mahasiswa mendapatkan Best Of The Best yaitu, Stefani dalam lomba Christmas Cookies dan Tiffany dalam lomba Fruit Carving. Best Of The Best adalah penghargaan untuk nilai tertinggi dalam tiap kategori.

Tugas mendampingi dan membimbing mahasiswa dalam lomba, sudah saya lakukan sejak tahun 2015 lalu. Berikut, daftar mahasiswa peserta lomba yang saya bimbing dan berhasil mendapat medali.

SIAL Interfood 2015

Pada lomba Chocolate Showpiece, saya membimbing mahasiswi Febe Ayu Sutejo. Dia berhasil mendapat Gold Medal. Pada acara yang sama, mahasiswa lain yang saya bimbing dan mendapat Bronze Medal adalah Denny Santoso.

Di antara karya yang juara 
SIAL Interfood 2017

Dua tahun berikutnya, saya kembali mendapat kepercayaan untuk membimbing mahasiswa dalam lomba Jajanan Pasar. Mereka adalah Ellia Anggun & Aulia. Puji Tuhan, mereka mendapat Silver Medal dan hadiah uang tunai Rp 2 juta.

SIAL Interfood 2018

Pada SIAL Interfood baru lalu, Tristar Culinary BSD mengirim banyak peserta. Ini prestasi luar biasa yang diraih oleh mahasiswa. Mereka yang saya bimbing tampil gemilang. Misalnya, Stefani A. Susanto mendapat Gold Medal dan gelar Best of the Best lewat karya Christmas Cookies.

Kemudian ada Dewi Salim mendapat Bronze Medal dalam lomba Whole Cake. Medali yang sama juga diraih oleh Mychael Ng lewat karya Indonesia Sweet Bread. Sama dengan Thasya Gracia Engkeng dan Satria M. Rmadhani. Keduanya mendapat Bronze Medal lewat lomba Modern Plated Jajanan Pasar. Sementara Keysha Zalika Zahra dan Shifa Shabila masing-masing mendapat Diploma dalam lomba Plated Dessert.

Chocotober Fest 2018

Pada lomba Chocolatier prestasi mahasiswa cukup membanggakan. Mereka berhasil meraih Gold Medal dan hadiah uang tunai Rp 8 juta lewat lomba Chocolate Fashion Show (busana dari coklat).

Mereka berlima, masing-masing Thasya Gracia Engkeng, Mychael Ng, Ammy Dewi Kelaswati, Stefani Angela Susanto dan Tiffany merancang dan menghias busana yang dilombakan. Prestasi di acara yang sama juga diraih oleh Satria M Ramadhani. Dia mendapat predikat Certificate BEST SPIRIT PERSONALITY.

Juri Dari Luar Negeri

Selama membimbing mereka untuk lomba, kesulitan utama saya adalah faktor waktu. Sebagai dosen Pastry jadwal mengajar saya pagi dan siang sehingga waktu untuk trial lomba sangat sempit. Karena itu saya meminta kepada mahasiswa peserta lomba untuk meluangkan waktunya agar bisa trial di hari Sabtu dan Minggu. Seringkali juga mahasiswa trial setelah pelajaran selesai hingga malam.

Juri dari luar negeri sangat teliti 
Kesulitan lain, adalah ketika menentukan resep yang akan dipakai untuk lomba. Untuk mendapatkan resep yang tepat, mahasiswa harus melakukan trial berulang kali. Sebab, di dalam lomba rasa sangat berpengaruh, bisa 30% - 50%. Saya selalu menekankan kepada mahasiswa bahwa setelah mendapatkan rasa yang tepat, di dalam lomba nanti mereka harus menimbang bahan secara tepat pula.

Juga ada kendala – kendala lain di dalam membuat showpiece dari cookies dan bread showpiece. Lomba jenis ini baru pertama kali diikuti. Syukurlah akhirnya semua kendala bisa terselesaikan dengan baik.

Saya juga selalu menekankan kepada mahasiswa peserta lomba untuk tidak memandang lawan di bawah mereka, tetapi di atas mereka. Mereka harus berusaha keras untuk membuat yang terbaik, karena lomba ini adalah tantangan bagi mereka.

Juri terbanyak dari luar negeri. Setiap penilaian 1 juri Indonesia, 3 dari luar 
Lomba SIAL Interfood 2018 yang kita ikuti tahun ini berbeda dengan lomba – lomba yang lalu. Lomba ini bertaraf internasional, karena juri yang menilai kebanyakan dari luar negeri. Dari 4 juri yang menilai, 1 juri dari Indonesia dan 3 juri dari luar negeri. Juga pesertanya tidak dari Indonesia saja, tetapi ada yang dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Brunai, Bali, Bandung, Surabaya, Bogor dan lain-lain.

Peserta lomba juga tidak dikategorikan antara junior dan profesional, tetapi digabung semua. Banyak peserta lomba dari hotel-hotel, catering dan café. Ini menjadi tantangan juga bagi mereka. Dari situ kita bisa menimba pengalaman supaya dalam lomba yang akan datang kita bisa membuat lebih baik lagi. /ami

Tidak ada komentar:

Posting Komentar