Ir. Lilies Prihantini, M.MPar


Ir. Lilies Prihantini, M.MPar 

Di Balik Sukses Mahasiswa Ada Dosen Yang Luar Biasa

DELAPAN medali berhasil diraih oleh mahasiswa Tristar Culinary BSD di ajang SIAL InterFOOD 2018 di JIExpo Kemayoran Jakarta (21 - 24/11) lalu. Di balik sukses para mahasiswa itu, ada peran dosen yang luar biasa. 


Satu di antaranya adalah Ir. Lilies Prihantini, M.MPar. Dosen Advance dan Teknologi Pangan itu, berhasil membimbing mahasiswa meraih dua medali. Satu medali Silver Award untuk lomba “Sate Nusantara” dan satu Gold Award dari lomba “Nasi Tumpeng”.

Bagaimana kisah di balik sukses perempuan yang akrab disapa Bu Lilies oleh mahasiswanya itu? Berikut petikan pengalamannya dipaparkan dengan gaya bertutur:
Lilies bersama Era dan Atis 
Saya dipercaya untuk mendampingi dua jenis lomba. Lomba “Sate Nusantara” yang diikuti oleh William dan berhasil menyabet medali Silver Award. Kemudian lomba Nasi Tumpeng yang diikuti pasangan alumni Tristar Culinary, Era Pratiwi – Atis Setyarini. Mereka sukses meraih Gold Award.
William 
Sebagai pendamping atau pembimbing, saya harus aktif bertemu dan berdiskusi, memberikan resep-resepnya dan mengawasi selama mereka praktik. Jika resepnya kurang bagus, tidak enak, maka harus segera dicarikan dan diganti dengan resep yang lain. Sampai menemukan resep dan bahan baku yang pas.

Misalnya, ketika mempersiapkan menu sate, awal praktik kami belum punya pilihan, daging apa yang dijadikan bahan sate untuk kami ikutkan lomba. Maka kami harus melakukan praktik beberapa jenis sate. Sate manis Pontianak, sate sapi gombong, sate sapi maranggi dan beberapa jenis sate lainnya.

Setelah dua kali praktik, akhirnya kami pilih sate dari daging sapi. Alasannya? Karena tingkat kesulitan sate dari daging sapi lebih tinggi dibanding sate daging ayam. Karena daging sapi tidak boleh keras atau alot. Untuk bisa membuat tekstur sate empuk, saya cukup cerewet pada mahasiswa. Harus terus menerus diingatkan agar disiplin dan mandiri.

Kalau peserta lomba tumpeng, mereka itu alumni dan terlihat lebih mandiri. Paling saya memberi saran dan berdiskusi kalau rasanya kurang ini kurang itu. Atau teksturnya kurang pas dan menyempurnakan cara menghias tumpengnya. Meski lauk yang dimasak jenisnya banyak, mereka relatif bisa dilepas saat praktik.

"Tumpeng Rama Untuk Dewi Shinta" 


Sate Sapi Gondong raih Silver Award 
Sebagai pendamping, memang harus ekstra sabar dan bijak menyikapi situasi. Misalnya, terhadap William, mahasiswa peserta lomba Sate Nusantara. Mahasiswa ini aktif dalam kegiatan gereja. Kadang sulit untuk mengatur pertemuan. Bahkan, praktik yang benar-benar saya dampingi hanya dua kali saja.

Untuk mengatasi hal itu, saya komunkasikan dengan orangtuanya. Tujuannya? Agar mereka ikut mensupport dengan menyiapkan alat dan bahan untuk lomba. Eh ternyata orangtuanya bersedia datang ke kampus untuk mengambil bahan-bahan keperluan lomba. Bahkan kedua orangtuanya sangat welcome dan minta agar tetap bisa menjalin berkomunikasi dan mohon agar anaknya terus dibimbing.

Pengalaman mendampingi peserta lomba Nasi Tumpeng, lain cerita. Posisi peserta yang alumni Tristar itu berada di Surabaya. Jadi, karena berjauhan, kami berkomunikasi via WhatsApp atau telepon. Sebelum hari H, saya hanya sempat mendampingi mereka praktik secara langsung sebanyak dua kali.



Praktik pertama untuk pengulangan dan ganti resep, menyempurnakan lauk yang kita anggap masih kurang pas. Kemudian, praktik kedua belajar menghias tumpeng. Itu hari terakhir praktik mereka bekerja keras. Kami berdiskusi dan cukup serius terutama soal hiasan dan tampilan tumpeng agar sesuai dengan tema “Tumpeng Rama Untuk Dewi Shinta”.

Perjuangan tidak sia-sia. Keduanya berhasil mendapat predikat juara. Tentu saja saya sangat bangga melihat keberhasilan mereka itu. Karena itu, saya selalu sarankan kepada mahasiswa untuk berani ikut berbagai kegiatan lomba, rajin berlatih, disiplin dan aktif berdiskusi dengan pembimbing. Kalau perlu, mulailah mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tingkat Asean. /ami

Tidak ada komentar:

Posting Komentar