Chef Fitri Syntiadewi SE




"Keahlian dan Keterampilan di Bidang Kuliner Tak Akan Lekang Oleh Waktu"

Sejak kecil, Fitri Syntiadewi SE, mulai akrab dengan dunia Baking and Pastry. Beranjak remaja sampai dewasa, dia sudah menguasai secara profesional. Sekarang, keahliannya itu didedikasikan sebagai dosen di Tristar Culinary Institute Surabaya.
“Chef Fitri”, demikian sapaan akrabnya di lingkungan kampus Tristar. Dia salah satu dosen muda favorit yang dekat dengan mahasiswa. Bagimana ceritanya hingga sarjana ekonomi manajemen keuangan ini memilih profesi di luar ilmu yang didapat dari kampusnya? Ikuti penuturannya berikut ini:

Chef Fitri sedang membimbing peserta kursus singkat 
Sejak kecil saya sudah mengenal dunia Baking and Pastry. Nenekku, wanita karir yang suka membuat aneka produk kue. Begitu juga mama, beliau seorang guru yang juga suka membuat kue. Selain berprofesi sebagai pegawai, nenek dan mama juga memanfaankan waktunya untuk berwirausaha.

Ketika saya masih SD, saya sering diajak oleh nenek ataupun mama untuk ikut menghadiri acara Baking Demo. Saya senang sekali berada di antara orang-orang dewasa yang menyaksikan acara tersebut. Ketika nenek atau mama ikut kursus singkat membuat kue yang diselenggarakan oleh lembaga kursus, saya selalu diajak. Saya senang dan tekun mengikuti materi yang sisajikan oleh chef-chef terkenal pada masa itu.

Di rumah, nenek atau mama pasti mempraktekkan lagi pelajaran yang didapat dari kursus. Saya ikut menyaksikan dan membantu mereka. Pengalaman-pengalaman itu masih teringat sampai saat ini.




Misalnya, adonan pertama yang saya pegang ketika kelas 1 SD saat membantu mama adalah adonan kue kering. Sedangkan adonan pertama yang saya pegang dan saya buat bersama nenek adalah adonan donat. Nah, sejak saat itulah, minat pada dunia baking terpupuk.


Seiring perjalanan waktu, ketika saya duduk di bangku SMP, nenek saya pensiun kemudian fokus berwirausaha. Rutin menerima pesanan aneka roti dan kue. Nenek juga bergabung dengan UKM binaan salah satu produk tepung terkemuka. Usia saya mulai meningkat remaja dan nenek selalu mengajak saya untuk ikut pelatihan baking. Begitu juga jika ada pesanan roti atau kue, saya mulai ikut ambil bagian dalam proses produksi.




Setelah masuk SMA, nenek sering meminta saya untuk menghandle pekerjaan membuat roti atau kue ketika ada pesanan. Kadang, saya dipercaya menggantikannya untuk hadir di acara baking demo atau mengikuti kursus jika beliau berhalangan.

Rupanya nenek menginginkan saya untuk meneruskan usahanya yang sudah lama dirintis. Karena itu, beliau mengusulkan pada mama agar selepas SMA saya melanjutkan kuliah di salah satu akademi kuliner. Waktu itu, mama tidak setuju. Saya harus jadi sarjana ekonomi. Ya sudah, saya turuti keinginan mama dan mendaftar di Fakultas Ekonomi Unesa jurusan manajemen keuangan.




Kecintaan saya pada dunia baking dan pastry tidak pernah berubah. Sambil kuliah saya aktif membantu mengembangkan usaha nenek. Saya juga rajin mengikuti kursus baking. Setelah mendapat gelar sarjana ekonomi, barulah mama mengijinkan saya mengambil kuliah Diploma 1 bidang baking & pastry art.

Pasca kuliah, saya magang selama 3 bulan di salah satu hotel bintang 4 di Surabaya. Satu bulan setelah magang, saya langsung ditawari bergabung menjadi bagian dari tim pastry di hotel tersebut. Bekerja sambil terus berwirausaha melanjutkan bisnis nenek. Kemudian pada tahun 2016 saya mengajar di Tristar Culinary Institute. Saya yakini bahwa keahlian dan keterampilan di bidang kuliner tak akan lekang oleh waktu. /bahar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar