Verian Mahendra Jati

Verian Mahendra Jati 
Melukis Imajinasi di Dalam Jelly
“VERIAN, lengkapnya Verian Mahendra Jati,” ucap anak muda asal Kudus, Jawa Tengah itu ketika diajak ngobrol usai peresmian Tristar Samator, Jumat (29/11) lalu. Apasih yang menarik dari lajang kelahiran 3 Agustus 1998 ini?

Saya baru dua kali bertemu dengan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Parjono dengan Amik Pudiyati Ini. Pertama, ketika dia menjadi pemateri di acara Jelly Flower Pudding Decoration kepada 16 finalis BNI Jawa Pos Miss Culinary 2018 di Oxygen Room, lantai 3 Novotel Samator.

Kedua, ketika berlangsung acara peresmian kampus baru Tristar Culinary Institute (TCI) di Samator, Jalan Kedung Baruk, Surabaya. Pada pertemuan kali kedua itulah, saya sempat berbincang-bincang dengan mahasiswa D3 Pastry TCI ini.

Verian yang baru saja selesai mendemokan kemahirannya menghias jelly dengan teknik suntik. Keahlian yang terbilang sulit karena tidak semua mahasiswa mampu melakukan dengan sempurna. Saat itu, Verian dengan mudah menyulap tampilan jelly menjadi cantik dengan hiasan bunga mekar lengkap dengan daun.

Verian tekun berlatih 
“Saya masih belajar. Belum mahir dan saya harus terus belajar dan berlatih,” ucapnya ketika saya mengamati dan memuji karyanya yang menarik itu. Pemuda santun dan murah senyum itu terus memainkan jarum suntik, mengeluarkan cairan dari tabung suntik dengan hati-hati. Dia sedang membuat putik bunga agar terlihat sempurna.

Antara imajinasi dan skill. Dua hal itu yang menjadi kekuatan sehingga karyanya menjadi indah. Imajinasi saja tidak cukup tanpa skill. Dan skill itu didapat dengan rajin berlatih. Di kampus, Verian mendapat bimbingan dari Chef Fitri dosen pastry, di kamar kos dia berlatih dan terus berlatih.

“Chef Fitri yang membimbing saya. Mengajari teknik dan mendampingi dengan sabar sejak saya belum bisa sama sekali sampai lumayan bisa seperti ini. Saya sangat berterimakasih pada beliau,” ucap Varian.

Pudding Art nan cantik karya Verian 
Ucapan terimakasih yang sama juga disampaikan kepada Presiden Direktur TCI, Juwono Saroso yang sudah memberi kesempatan padanya untuk mengembangkan bakat. Verian memang selalu ditunjuk sebagai pemateri untuk Pudding Art dalam berbagai acara. “Saya sangat berterimakasih pada Pak Yu.”

“Saya Belum Siap”

Kemampuannya sudah mumpuni. Karyanya juga memiliki nilai jual yang tinggi. Nah, kenapa tidak mulai berpikir komersil? Menjual karyanya yang eksklusif itu? Ketika hal itu saya tanyakan, Verian merendah dengan mengatakan “belum pantas, belum percaya diri”.

Saran untuk menjual juga disampiakn berkali-kali oleh teman-teman kos saya. Mereka bilang, ayo kita jual. Dan mereka bersedia membantu sebagai marketingnya. Ayolah kita jualan saja, kata mereka. Itu diucapkan setiap saya berlatih menghias puding di tempat kos.

Saya kan tidak suka makan puding. Yang menikmati puding-puding itu ya teman-teman kos. Mereka bilang karya saya itu keren banget. Mereka mau batuin untuk menjual. Tapi saya merasa belum pantas. Masih ingin menambah kemampuan dengan berlatih dulu. Bahkan setelah lulus D3, saya ingin memperdalam lagi di sekolah khusus pudding art.



Sekali waktu ada teman yang akan berulang tahun. Dia minta tolong dibuatkan kue ulang tahun dari pudding. Karya itu juga dipuji oleh beberapa teman. Terus mereka juga menyarankan untuk jualan. Saya bilang pelan-pelan dulu. Nanti kalau sudah mahir akan saya komersilkan.

Kue ulang tahun dari puding atau jelly sepertinya bisa lebih menarik dan eksklusif. Juga bisa dijadikan kue ucapan selamat untuk diberikan kepada sahabat, kekasih dan relasi pada momen-momen tertentu. Dan, Varian bisa menjadi pelopornya.

Tapi Verian kembali berkilah: “Saya belum siap”. Lalu, kapan siapnya? Dia tersenyum dan berkata lagi: “pelan-pelan, pada saatnya saya akan lakukan”. Okelah kalau begitu. /ami



Tidak ada komentar:

Posting Komentar