Kenangan 26 Desember 2019, saat perjalanan
wisata ke Thailand. Penerbangan langsung Surabaya – Bangkok, tidak ada. Kita naik Royal Brunei Airlines, transit di
Bandara Internasional Bandar Seri Begawan.
Saat itu kita berangkat 9 orang. Saya, Juwono bersama istri, Evie,
dan tiga anak, Fiona, Cindy, dan Hans. Kemudian papa dan mama tercinta Pramono
Judarto dan Sriwulan Edijati
(almarhumah), papa mertua Hartono Alim Yuwono (almarhum), dan adik ipar Roni.
Transit biasanya identik dengan menunggu
di bandara sambil melirik jam. Jika waktunya cukup lama, duduk manis di ruang
tunggu, pastilah sangat membosankan.. Lalu? Kita memutuskan untuk ikut city tour
singkat.
Perjalanan ke pusat kota hanya butuh
waktu sekitar 20 menit. Tujuan pertama tentu saja Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. Dari jauh, kubah emasnya sudah
berkilau, berdiri anggun di tepi laguna buatan. Masjid ini salah satu ikon
paling terkenal di Brunei. Bangunannya menggabungkan gaya Mughal India dan
Renaisans Italia.
Materialnya semuanya impor. Marmer dari
Itali, granit dari Shanghai, lampu kristal & kaca patri dari Inggris.
Demikian juga karpetnya diimpor dari Arab Saudi. Kubah utama dan menara utama
masing-masing setinggi 52 meter, dilapisi lembaran emas murni dan mosaic kaca berlapis emas diimpor dari Venesia.
Masjid ini terlihat seolah-olah terapung
di atas air karena dikelilingi laguna buatan. Di tengah laguna terdapat replika
barge (tongkang, sejenis kapal tanpa mesin) kerajaan Brunei abad ke-16 yang
melambangkan sejarah dan simbolisme kerajaan.
Selanjutnya kita melewati Kampong Ayer, sebuah kampung terapung yang memiliki 40 desa-desa kecil. Penghuninya
lebih dari 20 ribu jiwa. Alat trasportasi utamanya adalah perahu kayu bermorot
(taksi air). Di kampung terapung ini juga terdapat jalan setapak di atas air
sepanjang 38 km untuk beraktivitas.
Karena durasi transit tour yang terbatas, kita tidak sempat masuk ke kampung. Hanya mengamati suasana dari tepi sungai. memandang perkampungan dan kesibukan perahu motor lalu-lalang membawa penumpang.
Walau hanya perjalanan singkat, tapi mampu meninggalkan kesan yang mendalam. Dari kubah emas masjid hingga pemandangan Kampong Ayer, Brunei melekatkan sisi terbaik dalam waktu lima jam. Cukup untuk membuat hati ingin kembali. (bersambung).