Jumat, 29 Agustus 2025

Brunei Transit Tour – Bandar Seri Begawan (1)

KUBAH EMAS  MASJID SULTAN OMAR ALI SAIFUDDIEN & KEUNIKAN KAMPONG AYER


Kenangan 26 Desember 2019, saat perjalanan wisata ke Thailand. Penerbangan langsung Surabaya – Bangkok, tidak ada.  Kita naik Royal Brunei Airlines, transit di Bandara Internasional Bandar Seri Begawan.

Saat itu kita berangkat  9 orang. Saya, Juwono bersama istri, Evie, dan tiga anak, Fiona, Cindy, dan Hans. Kemudian papa dan mama tercinta  Pramono Judarto dan Sriwulan Edijati (almarhumah), papa mertua Hartono Alim Yuwono (almarhum), dan adik ipar Roni. 


Transit biasanya identik dengan menunggu di bandara sambil melirik jam. Jika waktunya cukup lama, duduk manis di ruang tunggu, pastilah sangat membosankan.. Lalu? Kita memutuskan untuk ikut city tour singkat.


Perjalanan ke pusat kota hanya butuh waktu sekitar 20 menit. Tujuan pertama tentu saja Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. Dari jauh, kubah emasnya sudah berkilau, berdiri anggun di tepi laguna buatan. Masjid ini salah satu ikon paling terkenal di Brunei. Bangunannya menggabungkan gaya Mughal India dan Renaisans Italia.


Materialnya semuanya impor. Marmer dari Itali, granit dari Shanghai, lampu kristal & kaca patri dari Inggris. Demikian juga karpetnya diimpor dari Arab Saudi. Kubah utama dan menara utama masing-masing setinggi 52 meter, dilapisi lembaran emas murni  dan mosaic kaca berlapis emas  diimpor dari Venesia.


Masjid ini terlihat seolah-olah terapung di atas air karena dikelilingi laguna buatan. Di tengah laguna terdapat replika barge (tongkang, sejenis kapal tanpa mesin) kerajaan Brunei abad ke-16 yang melambangkan sejarah dan simbolisme kerajaan.


Selanjutnya kita melewati Kampong Ayer, sebuah kampung  terapung  yang memiliki 40 desa-desa kecil. Penghuninya lebih dari 20 ribu jiwa. Alat trasportasi utamanya adalah perahu kayu bermorot (taksi air). Di kampung terapung ini juga terdapat jalan setapak di atas air sepanjang 38 km untuk beraktivitas.


Karena durasi transit tour yang terbatas, kita  tidak sempat masuk ke kampung.  Hanya mengamati suasana dari tepi sungai. memandang perkampungan dan kesibukan  perahu motor lalu-lalang membawa penumpang.


Walau hanya perjalanan singkat, tapi mampu meninggalkan kesan yang mendalam. Dari kubah emas masjid hingga pemandangan  Kampong Ayer, Brunei melekatkan sisi terbaik dalam waktu lima jam. Cukup untuk membuat hati ingin kembali. (bersambung).